bagimu negeri, derita kami

Belum sempat kuucapkan merdeka
Namun sudah lebih dulu bayang – bayang kelam melintas di benak ku.
Bayang – bayang wajah siti yang ketakutan setengah mati saat di serbu deru birahi majikannya sendiri
Bayang – bayang wajah para petani yang mengerang menahan harga – harga yang tengkulak sodorkan
Bayang – bayang wajah marsinah yang begitu gagah mengairi gersang tanah tirani
Bayang – bayang wajah munir yang tenang berselimut awan mendung di langit keadilan
Bayang – bayang wajah wijhi tukul yang kerap menantang laju langkah kehidupan
Bayang – bayang wajah sepuluh juta anak anak tanpa pendidikan yang lugu melumat kerasnya jalanan
Bayang – bayang wajah sarjana yang berdebu, yang terombang ambing tanpa pekerjaan
Bayang – bayang wajah guru honorer yang teduh jauh di kedalaman hutan
Lalu, bayang – bayang wajah penuh luka menganga yang amis oleh busuknya nanah, apakah itu kamu, indonesiaku?
Sementara aku tak lagi punya suara untuk sekedar ucapkan merdeka
Angin berhembus mengusap tubuh merah putih di tiang tiang bendera
Dan di cakrawala, ku saksikan garuda melangit, melayang kepakkan perih.
Merdeka? Siapa? Kita?
Astaga, kau pasti bercanda.

2 Comments

  1. MOCH SYAFI'I

    17 Agustus 2017 at 10:04 am

    tes comen

  2. Nursaleh

    21 Agustus 2017 at 8:25 pm

    Inilah Kemerdekaan semu. Secara de Jure memang kita merdeka. tap de facto nyatanya kita masih terjajah, terjajah dengan penjajahan gaya baru alias neo imperialisme, dan ini membuat bangsa terjajah tidak sadar bahwa mereka sedang terjajah

Leave a Reply